Selasa, 15 November 2011

laporan praktikum mikrobiologi


PRAKTIKUM 1

A.      JUDUL
Pengenalan Alat-Alat  Laboratorium yang Digunakan dalam Mikrobiologi.
B.       TUJUAN
Mengenal Prinsip yang Penting Dalam Menggunakan Alat.
C.      PEMBAHASAN
Dalam melaksanakan kegiatan mikrobiologi kita menggunakan macam-macam alat laboratorium antara lain :
1.        Tabung Reaksi




Digunakan untuk bermaca-macam kegiatan, misalnya mencampur atau memanaskan larutan dalam jumlah kecil. Dalam kegiatan mikrobiologi tabung reaksi digunakan sebagai tempat media padat atau cair, baik yang belum steril atau setelah disterilkan pada waktu memanaskan, tabung reaksi harus dalam keadaan miring diatas nyala api, jangan sekali-kali mulut tabun reaksi yang dipanaskan itu mengahadap Kediri sendiri atau kepada orang lain.
2.        Gelas Piala/Beaker Gelas
 



Digunakan sebagai tempat larutan atau zat cair. Untuk keperluan pemanasan sebaiknya digunakan gelas piaqla yang tahan api (pyrex).
3.        Kaki tiga  (treepot) dan Kawat Kassa
http://www.p4tkipa.org/image/clip_image021.jpg
 




Digunakan dalam memanaskan larutan yang ditempatkan dalam alat gelas atau kaca.
4.        Labu Erlenmeyer




Digunakan dalam menyimpan larutan atau zat kimia, bila berisi larutan dalam keadaan steril, labu harus ditutup, rapat dengan sumbat gabus.
5.        Gelas Ukur
 






Digunakan untuk mengeukur larutan atau zat cair yang akan diperlukan sesuai dengan kebutuhan. Pilihlah gelas ukur yang terbuat dari kaca untuk  zat yang bersifat asam, peran memeganghatikan cara membaca skala pada gelas ukur.
6.        Thermometer
 



Digunakan untuk mengukur suhu bila dipakai untuk mengukr suatu larutan, bilaslah dahulu dengan aquades baru kemudian dicelupkan kedalam larutan dengan memegang ujungnya yang terikat dengan benang
7.        Corong dan Kertas Saring
 



Digunakan untuk menyaring suatu larutan caranya : lipatlah kertas saring menjadi 4 bagian yang sama, kemudia bentuk kertas sarimng itu menjadi corong sehingga separuh corong terdiri dari satu lapis dan separuhnya tiga lapis, lalu masukkan kedalam corong. Sebelum dilakukan penyaringan berilah beberapa tetes pelarut zat yang akan disaring, tuangkan larutan yang hendak disaring perlahan-lahan dan  jangan sampai larutan yang dituang melimpah keluar kertas saring.
8.        http://2.bp.blogspot.com/_uHRfE5hYhkU/S3W6CDNqPqI/AAAAAAAAAA8/xeQhwAPIxUE/s320/clip_image050.jpgPipet


Digunakan untuk mengambil larutan dalam jumlah tertentu ada dua macm pipet :
a.         Pipet tetes, dipakai untuk mengambil larutan dalm jumlah tetes/sedikit, caranya karet pipet dipijit masukkan dalam larutan yang akan diisap, lepaskan pijatan karet larutanakan masuk terisap kedalam pipet.
b.         Pipet volume, dipakai untuk mengambil larutan, dalam jumlah tertentu. Caranya :  isaplah larutan agar masuk kedalam pipet dengan mulut, jaga jangn sampai larutan terisap ke mulut, kemudian pipet ditegakkan dan ujung atas pipet ditutup dengan jari telunjuk sehinga larutan tidak keluar, ukur larutan sesuai dengan volume yang diperlukan.
9.        Cawan petri  (petridish)
 




Digunakan sebagai tempat media agar/lempeng agar akar akan digunakan untuk pembenihan mikroba. Caranya : bagian yang lebih kecil berisi media dan bagian yang lebih besar sebagai tutupnya. Jika cawan petri terisi media harus disimpan dalam keadaan terbalik (bagian kecil diatas), pada bagian luar berilah keterangan nama media dan tanggal pembuatan.
10.    Pembakar Bunsen
 






Digunakan untuk memanaskan dan mensterilkan jarum inokulasi atau sengkelit, caranya : pegang jarum inokulasi dalam keadaan miring dan bakar pada bagian api yang panas sampai pijar.
11.    Jarum inokulasi/sengkelit



Digunakan untuk mengambil koloni suatu mikroba dan untuk inokulasi.
12.    Neraca

 






Digunakan untuk menimbang bahan-bahan baku tau zat-zat kimia. Ada dua macam neraca yaitu : neraca analitik dan neraca ateknik keduanya mempunyai ketelitian yang berbeda, neraca analitik sampai 0,001Mg dan neraca teknik sampai 0,01 mg .
13.    Objek gelas dan gelas penutup
Digunakan sebagai tempat untuk melekatkan preparat/sediaan yang akan dilihat dibawah mikroskop.


14.    Autoclove





a.     Digunakan untuk sterilisasi media maupun alat-alat. Sterilisasi dengan autoclove disebut strilisasi basah yaitu menggunakan uap air, bertekanan pada suhu 121oC selama 15 menit. Didalam melakukan sterilisasi ada hal yang perlu diperhatikan.
b.    Sterilisasi tergantung pada uap karena itu udara harus dikosongkan betul-betul dari ruangan sterilisasi
c.     Semua  bagian bahan yang disterilkan harus terkena uap.
d.    Bahan-bahan yang berpori atau yang berbentuk cair harus permeable terhadap uap. Suhu harus mencapai 121oC selama 15 menit

15.    Mikroskop
 





Digunakan untuk mengamati yang ukurannya sangat kecil (mikroskopik) gunanya untuk memperbesar pandangan sehingga objek dapat dilihat. Untuk mengamati jamur dapat digunakan pembesaran lemah dengan memakai lensa objektif 10 kali atau 45 kali. Untuk mengamati bakteri gunakanlah pembesaran kuat dengan memakai lensa objektif 100 kalidan pakailah minyak imersi (immersion oil).
16.    Dispo



Dispo digunakan untuk mengambil dalam ukuran tertentu.
D.      KESIMPULAN
Alat yang digunakan dalam praktikum mikrobiologi diatas yaitu tabung reaksi, gelas piala, kaki tiga, labu erlenmeyer, gelas ukur, termometer, corong dan kertas saring. Adapun prinsip yang penting dalam menggunakan alat yaitu semua alat dapat digunakan dalam kegiatan praktikum dan sangat berguna bagi kelangsungan praktikum.
E.       DAFTAR PUSTAKA


PRAKTIKUM 2

A.      JUDUL
Sterilisasi dengan pembakaran.
B.       TUJUAN
Mengetahui cara sterilisasi berbagai alat dengan pembakaran.
C.      DASAR TEORI
Sterilisasi adalah cara untuk mendapatkan kondisi bebas mikroba. Dalam bidang mikrobiogi baik dalam pengerjaan penelitian atau praktikum, keadaan steril merupakan syarat utama berhasil atau tidaknya pekerjaan yang dilakukan dilaboratorium.
Sterilisasi merupakan prosesatau kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan seperti, kuman, debu, virus, jamur, bakteri dan radikal bebas lainnya. Sterilisasi pembakaran adalah kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda dengan menggunakan panas api. Dengan menggunakan suhu panas api maka kita dapat mensterilisasikan atau membebaskan suatu benda dari radikal bebas.
Metode atau cara sterilisasi tergantung pada jenis, macam dan sifat alat atau bahan yang disterilkan, misalnya ketahanan terhadap panas, wujud padat, cair, bentuk, ukuran dan sebagainya.
Pembakaran (incineration) merupakan cara sterilisasi yang 100% efektif, tetapi ini terbatas penggunaanya. Cara ini biasa dipergunakan untuk mensterilkan alat penanam kuman (jarum ose/sengkelit), yakni dengan membakarnya sampai pijar. Dengan cara ini semua bentuk hidup akan dimatikan. Pembakaran juga dilakukan untuk bangkai binatang percobaan yang mati.




D.      ALAT DAN BAHAN
 




Tabung reaksi                                             Lampu Bunsen



Cawan Petri                                                    Jarum ose
    
E.       PROSEDUR KERJA
1.        Menyalakan lampu Bunsen dan mengatur nyala api secara maksimal.
2.        Untuk mensterilkan jarum ose. Praktikan mengambil jarum ose kemudian melakukan pembakaran dengan api Bunsen mulai dari bagian pangkal kawat ose perlahan menuju ke ujung kawat jarum ose. Jarum ose yang di bakar di biarkan dingin,selanjutnya siap digunakan untuk mengambil/menginokulasi mikroba.
 






3.        Untuk mensterilisasi mulut tabung reaksi. Membuka sumbat kapas kemudian melewatkan mulut tabung pada api. Hal ini dilakukan sebelum dan sesudah menganbil/menginokulasi biakan. Menutup kembali mulut tabung dengan kapas.
4.        Untuk mensterilisasi cawan petri. Sebelum cawan petri dibuka  untuk menginokulasi maupun cawan petri di tutup setelah diinokulasi, melewatkan tepi cawan di api Bunsen.
F.       HASIL PENGAMATAN
Adapun hasil pengamatan yang diperoleh dari sterilisasi pembakaran adalah alat dan bahan yang dalam keadaan steril yang siap untuk digunakan untuk praktikum seperti pada gambar dibawah ini :
                                                                                               


  Gelas Ukur                                Jarum Ose                          Cawan Petri
G.      PEMBAHASAN           
Sterilisasi adalah suatu cara untuk mendapatkan kondisi yang bebas dari mikroba. Pada sterilisasi pembakaran dilakukan pada setiap alat yang digunakan dalam berbagai pencorbaan  selama praktikum berlangsung, sebelum dan sesudah alat yang digunakan dalam percobaan disterilkan dengan pembakaran. Sterilisasi ini menggunakan pembakar Bunsen.
Sterilisasi pembakaran dilakukan pada  jarum ose, pembakaran dilakukan dari pangkal kawat sampai ujung jarum ose sebelum mengambil biakan, setelah itu disterilkan kembali. Sterilisasi pembakaran pada jarum ose ini bertujuan  agar sebelum mengambil biakan yang akan diamati jarum tersebut steril dan bebas dari bakteri.
Pada gelas objek dilakukan fiksasi dengan pembakaran yang melewatkan bawah gelas objek tersebut dibawah nyala api Bunsen, hal ini dilakukan  untuk melihat suatu jamur pada pembiakan bakteri. Fiksasi ini merupakan langkah yang sangat penting dan harus dilaksanakan dengan sempurna dalam pembakaran.
Fiksasi bertujuan untuk  melekatkan sel pada gelas objek, membunuh mikroba, karena sel dalam keadaan mati lebih mudah diwsarnai daripada sel dalam keadaan hidup, melepaskan granula protein menjadi gugus reaktif-NH3 yang akang bereaksi dengan gugus OH-dari zat warna, mencegah terjadinya otolitis sel, yaitu proses pechnya sel yang disebabkan oleh enzim yang ada didalamnya, serta merubah daya ikat zat warna.
Fiksasi juga dapat dilakukan secara fisik dengan pemanasan ataupun pengeringan secara dingin, dan yang paling umum dilakukan secara kimia.
H.      KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan diatas, dapat disimpulkan bahwa Sterilisasi pemanasan adalah salah satu cara sterilisasi dengan cara menggunakan pembakaran langsung pada pembakar bunsen. Alat-alat yang dapat disterilisasi dengan cara pemanasan adalah jarum ose, tabung reaksi, cawan petri, dan lain-lain.
I.         JAWABAN TUGAS
karena tujuan utamanya adalah untuk mensterilkan peralatan dengan cara pembakaran langsung yaitu dengan cara membakar peralatan sampai pijar. Tehnik pembakaran langsung ini merupakan tehnik sterilisasi yang tercepat dan 100% efektif membunuh bentuk spora maupun toksin yang dihasilkan oleh bakteri.
J.        DAFTAR PUSTAKA
Hasan, A. M. 2006. Mikroba Dasar. Gorontalo: Nurul Jannah.
Kesmas B. 2010. Mikrobiologi Umum. Gorontalo : Universitas Negeri        Gorontalo
Saraswati, Dian. 2009. Bahan Ajar Mikrobiologi. Gorontalo : Universitas    Negeri Gorontalo.
Pelczar, Michael J. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press. Jakarta
Waluyo. 2005. Mikrobiologi Umum. UMPress. Malang



PRAKTIKUM  3

A.      JUDUL
Sterilisasi Dengan Panas Kering
B.       TUJUAN
Mengetahui Berbagai Cara Sterilisasi Berbagai Alat dengan Panas Kering
C.      DASAR TEORI
Setiap proses baik fisika, kimia dan mekanik yang membunuh semua bentuk terutama mikroorganisme disebut dengan sterilisasi. Praktek sterilisasi medium dan alat-alat secara umum dapat di lakukan secara fisik misalnya pemanasan, pembekuan, pengeringan, liofilisasi, dan radiasi. Metode atau cara sterilisasi tergantung pada jenis, macam dan sifat alat atau bahan yang disterilkan, misalnya ketahanan terhadap panas, wujud padat, cair, bentuk, ukuran dan sebagainya.
Prinsip kerja pembunuhan kuman dengan panas kering adalah menyebabkan denaturasi protein dan efek toksik akibat kenaikan kadar elektrolit. Cara kerja dari panas tersebut adalah bahwa panas membunuh mikroba karena mendenaturasi protein, terutama enzim-enzim dan membran sel. Panas kering membunuh bakteri karena oksidasi komponen-komponen sel. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan pembakaran dan oksidasi. Cara ini dapat dipakai bila selama sterilisasi dengan bahan kimia tidak akan berubah akibat temperatur tinggi atau tekanan tinggi. Cara membunuh mikroba ini adalah dengan memakai panas (thermal kill) daya bunuh kering tidak sebaik panas basah. Bila biakan mikroba dimasukkan dalam air mendidih akan cepat mati dibandingkan dengan dipanasi secara kering.
Sterilisasi dengan udara panas  memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan cara pembakaran secara langsung, karena energi panas sulit menetrasi bahan yang akan di sterilkan. Sterilisasi dengan udara panas berlaku untuk peralatan laboratorium seperti cawan petri, pipet, instrumen, jarum ose, dan dispo. Beberapa bahan yang dapat disterilkan dengan udara panas merupakan zat organik yang tidak mudah bercampur dengan baik. Cara mensterilkan bahan dan peralatan laboratorium adalah dengan menempatkan dengan oven dengan suhu 160-180 0C. Efek panas kering sama dengan efek pembakaran. Panas yang timbul akan mengoksidasi protein mikroba.

D.      ALAT DAN BAHAN
 



     Oven                                  Tabung Reaksi                    Cawan Petri
http://2.bp.blogspot.com/_uHRfE5hYhkU/S3W6CDNqPqI/AAAAAAAAAA8/xeQhwAPIxUE/s320/clip_image050.jpg
uLaN(804)
 


                                                                                               

Kertas Pembungkus                       Kapas                                               Pipet

E.       PROSEDUR KERJA
1.        Mengtangkupkan Cawan Petri  Bagian Bawah dan tutupnya , kemudian membungkusnya dengan kertas dan menyusuun cawan petri (5-10) buah dan mengikatnya dengan benang.





2.        Mengambil tabung reaksi masing-masing kemudian menutupnya dengan kapas, Beberapa tabung (5-10) mengikatnya menjadi satu dan membungkusnya dengan kertas kemudian mengikatnya kembali.
3.        Pipet ukur ujuung atas diberi sedikit sumbat (agak longgar) kemudian membungkusnya dengan kertas dan mengikatnya.
4.        Beaker Gelas, Erlenmeyer ditutup dengan Alumunium Foil, Untuk Spatula dan jarum Ose dibungkus dengan alumunium foildan diikat dengan benang.Semua alat dimasukkan kedalam oven
5.        Menyalakan oven pada suhu 175 0C. lakukan selama 2 jam
6.        Setelah selesai pemanasan semua peralatan didinginkan dan kemudian dipakai pada hari berikutnya

F.       HASIL PENGAMATAN
Adapun hasil pengamatan yang diperoleh dari sterilisasi dengan panas kering adalah alat dan bahan yang dalam keadaan steril yang siap untuk digunakan untuk praktikum seperti pada gambar dibawah ini :
http://2.bp.blogspot.com/_uHRfE5hYhkU/S3W6CDNqPqI/AAAAAAAAAA8/xeQhwAPIxUE/s320/clip_image050.jpg                                                                                        


            Cawan Petri                            Tabung Reaksi                        Pipet
G.      PEMBAHASAN
Sterilisasi dengan cara ini memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan cara pembakaran secara langsung, karena energi panas sulit menetrasi bahan yang disterilkan. Alat-alat yang disterilisasikan ditempatkan dalam oven dimana suhunya dapat mencapai 160-1800C. Caranya adalah dengan memanaskan udara dalam oven tersebut dengan gas atau listrik. Oleh karena daya penertrasi panas kering tidak sebaiknya panas basah, maka waktu yang diperlukan pada sterilisasi cara ini yang lebih lama yakni selama 1-2 jam. Sterilisasi cara ini baik dipergunakan untuk mensterilkan alat-alat gelas seperti cawan petri, tabung reaksi, labu dan sebagainya.
Beberapa bahan yang dapat disterilkan dengan udara panas merupakan zat organik yang tidak mudah bercampur dengan baik. Cara mensterilkan bahan dan peralatan laboratorium adalah dengan menempatkan dalam oven dengan suhu 160-180 oC. Efek panas kering sama dengan efek pembakaran. Panas yang timbul akan mengoksidasi protein mikroba. Keuntungan tehnik ini dibandingkan dengan tehnik uap panas adalah tidak uap panas yang membasahi bahan atau alat yang disterilkan.
H.      KESIMPULAN
Alat-alat yang dapat disterilisasi dengan panas kering antara lain yaitu tabung reaksi, pipet ukur, cawan petri, labu erlenmeyer, dan beaker gelas dengan cara dimasukkan kedalam oven dengan suhu 175 oC selama 2 jam.
I.         JAWABAN TUGAS
1.      Alat -  alat yang bisa disterilisasi dengan panas kering yaitu:
a.       Tabung reaksi
b.      Labu erlenmeyer
c.       Pipet ukur
d.      Gelas kimia
e.       Cawan petri
f.       Jarum ose
g.      Dispo
2.      Tidak  hal ini disebabkan karena media tumbuh mikroba harus menggunakan panas basah bertekanan tinggi, karena daya bunuh panas kering tidak sebaik panas basah dan juga zat-zat organic yang ada didalamnya tidak akan mengalami perubahan pada pemanasan basah.




J.        DAFTAR PUSTAKA
Hasan, A. M. 2006. Mikroba Dasar. Gorontalo: Nurul Jannah.
Kesmas B. 2010. Mikrobiologi Umum. Gorontalo : Universitas Negeri        Gorontalo
Saraswati, Dian. 2009. Bahan Ajar Mikrobiologi. Gorontalo : Universitas    Negeri Gorontalo.
Pelczar, Michael J. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press. Jakarta
Waluyo. 2005. Mikrobiologi Umum. UMPress. Malang



PRAKTIKUM 4

A.      JUDUL
Sterilisasi dengan panas basah bertekanan tinggi (Autoclave)
B.       TUJUAN
Mengetahui berbagai cara sterilisasi bahan atau media pertumbuhan mikroorganisme
C.      DASAR TEORI
Prinsip kerja dari autoclave sama dengan “pressure cooker”. Dimana ketika molekul air menjadi panas, maka daya penestrasinya menjadi bertambah. Alat ini serupa tanki minyak yang dapat diisi dengan uap air. Outoclave dapat diisi dengan uap air. Autoclave memiliki ruang yang mampu menahan tekanan diatas  1 atm. Dalam outoclave, yang mensterilkannya adalah panas basah, bukan pada tekanannya. Oleh karena itu setelah air didalam tangki mendidih dan mulai terbentuk uap air, maka uap air ini akan mengalir keruang pansteril guna mendesak keluar semua udara didalamnya. Bila masih ada udar yang tersisa, maka udara ini akan menambah tekanan didalam ruang pensteril yang akan menggangu naiknya suhu dalam ruangan tersebut.
Panas basah dari autoclave berfungsi untuk mensterilkan, bukan pada tekanannya. Setelah air dalam tangki mendidih dan mulai terbentuk uap air, maka uap air ini akan dialirkan didalam ruang pensteril guna mendesak keluar semua udara didalamnya. Bila masih ada udara tersisa maka udara ini akang menambah tekanan didalam ruang pensteril dan akan mengganggu naiknya suhu didalam ruang tersebut.

Autoclave sebagai alat pensteril memiliki banyak kelebihan di bandingkan dengan alat lainnya. Kelebihan tersebut antara lain pemanasan berlangsung cepat, mempunyai daya tembus, dan menghasilkan kelembaban tinggi. Semua proses tersebut akan mempermudah keagulasi protein sel-sel mikroorganisme. Sehingga kematian mikroorganisme adalah karena suhu bukan merupakan upaya atau tekanan uapnya.
Autoclave merupakan alat yang esensial dalam setiap laboratorium mirkrobiolgi, rung sterilisasi dirmah-rumah sakit, dan tempat-tempat yang memproduksi produk-produk sterilisasi. Waktu sterilisasi tergantung pada sifat bahan yang disterilkan tergantung pada sifat bahan yang disterilkan tergantung pada sifat bahan yang disterilkan, tipe wadah, dan volune bahan.
Beberapa zat tertentu mempunyai ciri-ciri yang membuat tidak praktis untuk disterilkan dengan autoclave. Bahan-bahan dengan air, misalnya minyak, dan lemak tidak tembus oleh uap aie sehingga mikroorganisme yang terkandung didalamnya akan tetap bertahan hidup. Selanjunya bahan menjadi berubah atau rusak bila terkena suhu yang tinggi. Oleh karena itu, bahan-bahan tersebut perlu disterilkan dengan cara-cara sterilisasi yang lain.
D.      ALAT DAN BAHAN
 



Autoclave                                        Oven                           Cawan Petri
·           PDA ( Potato Dextrosa Agar )
·           NA ( Nutrient Agar ) dalam Erlenmeyer
·           Aquadest

E.       PROSEDUR KERJA
1.         Menutup Erlenmeyer yang berisi PDA atau NA dengan kapas.
2.         Mengisi autoclave dengan aquadest sampai kepermukaan air bawah ansang/kerangjang autoclave.
3.         Menyambungkan autoclave dengan sumber listrik.
4.         Menutup autoclave dan mengencangkan penutupnya dengan kuat.
5.         Mengatur suhu, waktu dan tekanan yang diperlukan untuk sterilisasi. Sterilisasi ini umumnya dilakukan pada suhu 1200C dan tekanan 15 pounds selama 15 menit.
6.         Setelah sterilisasi berakhir, membuka tutup autoclave dan mengambil media yang telah disterilkan dan menuangkannya pada cawan petri steril, kemudian diinkubasi pada incubator.

            diinkubasi


F.       HASIL PENGAMATAN
Adapun hasil pengamatan dari praktikum ini yaitu mengahasilkan media NA dan PDA dalam keadaan steril selanjutnya siap digunakan sebagai media perkembangbiakan Mikroba.
G.      PEMBAHASAN
Bahan dan peralatan yang dipergunakan dalam bidang mikrobiologi harus dalam keadaan steril. Steril artinya berarti bebas dari mikroba yang dapat mengganggu media yang sedang dikerjakan.
Ada berbagai cara atau metode sterilisasi yang digunakan salah satunya denagn cara pemanasan basah.  Alat yang digunakan pada pemanasan basah adalah autoclave, yaitu alat yang berupa tangki minyak yang dapat di isi dengan uap air. Pada umumnya sterilisasi dengan panas basah digunakan untuk mensterilisasi media atau bahan karena umunnya sterilisasi panas basah lebih efektif untuk mensterilkan media dibandingkan dengan panas kering.
Autoclave dapat digunakan untuk mensterilkan beberapa bahan dan alat sbb. Bahan dan alat tersebut antara lain media mikrobiologik, alat intravena, sarung tangan karet, larutan, alat penyuntik, bilah penekan lidah, alat transfuse, pengawetan makanan dalam kaleng, dll.
Autoclave merupakan alat sterilisasii yang cukup meyakinkan, walaupun demikian tidak dapat dipakai untuk mesterilkan alat-alat yang terbuat dari plastic, karena bahan ini akan meeleleh. Demikian juga bila pengoprasiannya tidak tepatdapat menyebabkan ketidaktepatan dalam sterilisasi. Penggunaan yang tidak tepat biasanya disebabkan :
Ø  Kelalaian mengeluarakan udara (semuanya) sebelum menutup kutup bungan,
Ø  Membebani autoclave berlebihan atau pengemasan yang tidak benar.
Bahan dan yang disterilkan dengan metode sterilisasi panas basah adalah media PDA ( Potato Dextrose Agar ), dan NA ( Nutrien Agar ) dengan cara memasukannya kedalam Erlenmeyer. Dan selanjutnya dimasukan kedalam autoclave yang telah dimasukan aquadest steril. Pada umumnya suhu yang digunakan untuk mensterilkan bahan atau media pada pemanasan basah autoclave dilakukan pada suhu 1200  C  dan tekanan 15 pounds selama 15 pounds selama 15 menit. Namun akan teatapi yang mensterilkannya adalah  panas basah, bukan pada tekanannya. Maka dari itu pada saat aquadest steril mendidih dalam autoclave dan mulai terbentuk uap – uap air, uap – uap air inilah yang mensterilkan bahan atau media tersebut. Setelah disterilkan bahan atau media tersebut sudah dapat digunakan.
H.      KESIMPULAN
Bahan atau media pertumbuhan dari mikroorganisme yaitu PDA dan NA dapat disterilkan dengan cara sterilisasi panas basah bertekanan tinggi dengan menggunakan autoclave pada suhu 120 oC dengan tekanan 15 pounds selama 15 menit.
I.         JAWABAN TUGAS
Karena sterilisasi panas basah lebih efektif di bandingkan  dengan sterilisasi panas kering. Hal ini dibuktikan dengan memasukan biakan mikroba dalam air mendidih akan cepat mati dibandingkan dengan panas kering.
J.        DAFTAR PUSTAKA
Hasan, A. M. 2006. Mikroba Dasar. Gorontalo: Nurul Jannah.
Kesmas B. 2010. Mikrobiologi Umum. Gorontalo : Universitas Negeri        Gorontalo
Saraswati, Dian. 2009. Bahan Ajar Mikrobiologi. Gorontalo : Universitas    Negeri Gorontalo.
Pelczar, Michael J. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press. Jakarta
Waluyo. 2005. Mikrobiologi Umum. UMPress. Malang


PARKTIKUM 5
A.      JUDUL
Pembuatan media agar
B.       TUJUAN
Ø  Mengetahui cara-cara membuat media.
Ø  Mengetahui macam dan kegunaan media
C.      DASAR TEORI
Media adalah perbenihan/substrat atau dasar makanan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakan suatu mikroorganisme. Media yang baik dalam pemeliharaan mikroorganisme adalah yang mengandung unsur-unsur makanan yang diperlukan, dapat berupa garam-garam organik seperti protein, pepton, asam-asam amino dan vitamin-vitamin. Bahan-bahan yang disediakan untuk menumbuhkan mikroorganisme disebut kultur media. Sedankan mikroorganisme yang tumbuh dan berkembangbiak pada suatu kultur media disebut kultur.
Fungsi dari media adalah untuk membiakan, mengasinkan dan menyimpan mikroorganisme dalam waktu yang lama dilaboratorium. Media juga dapat berfungsi untuk mempelajari sifat-sifat kolono/pertumbuhan, sifat-sifat biokimia mikroorganisme. Selain itu dalam  laboratorium mikrobiologi  kedokteran dapat berfungsi untuk pembuatan antigen, toksin, dan untuk pasasi kuman dengan tuuan perubahan virulensi, dll.
Media dapat diklasifikasikan berdasarkan atas susunan kimia, konsistensi dan fungsinya :
1.        Klasifikasikasi media berdasarkan susunan kimianya yakniz
Ø  Media anorganik, yaitu media yang tersusun atas bahan-bahan anorganik
Ø  Media organik, yaitu media yang tersusun atas bahan-bahan organik
Ø  Media sintestik, yaitu media yang susunan kimianya dapat diketahui dengan pasti, media ini biasanya digunakan untuk mempelajari kebutuhan nutrisi mikroba.
Ø  Media non sintetik (alami), media ini banyak digunakan untuk menumbuhkan dan untuk mempelajari taksonomi mikroba.
2.        Klasifikasi media berdasarkan konssistennya yakni
Ø  Media cair, yaitu media yang berbentuk cair
Ø  Media padat, media yang berbentuk padat, media ini dapat berbentuk padat, media ini dapat berbentuk media organik (alamiah) misalnya media wortel, kentang dll atau media anorganik misalnya silika gel. Media dapat diperoleh juga dengan cara menambahkan agar-agar  yang berasal dari ganggang/alga yang berfunsi sebagai bahan pemadat. Alga digunakan karena bahan ini tidak diuraikan oleh mikroorganisme, dan dapat membeku pada suhu diata 450C. Media padat ini terbagi menjadi media agar miring dan deep
Ø  Media semi padat, dapat dibuat dengan bahan yang sama dengan media padat tetapi yang berbeda adalah komposisi agarnya. Media ini digunakan untuk melihat gerak kuman secara mikroskopik
3.        Klasifikasi media berdasarkan fungsinya
Ø  Media diperkaya, yaitu media yang ditambah zat-zat tertentu misalnya serum, darah, ekstrat tumbuhan dan lainnya, sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan mikroba heterotrof tertentu.
Ø  Media selektif, yaitu media yang ditambahkan zat kimia tertentu yang bersifat selektif untuk mencegah pertunbuhan mikroba lain, misalnya media yang mengandung kristal violet pada kadar tertentu dapat mencegah pertumbuhan bakteri gram positif tanpa mempengaruhi pertumbuhan gram negatif.
Ø  Media diferensial, media yang ditambah regensia atau zat kimia tertentu yang menyebabkan suatu mikroba memebentuk pertumbuhan atau mengadakan perubahan tertentu sehingga dapat membedakan bakteri hemolitik dan non hemolitik.
Ø  Media penguji, media dengan susunan asam-asam amino tertentu yang digunakan untuk menguji vitamin-vitamin, asam-asam amino. Antibiotik dll.
Ø  Media untuk perhitungan jumlah nmikroba, media spesifik yang digunakan untuk menghitung jumlah mikroba dalam suatu bahan, misalnya media untuk menghitung jumlah bakteri, actinomicetes, dll

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar